Pengelompokan Teknik Pengambilan Sampling
Posted by Kuliah Malam on 10.20
Melakukan penelitian, baik itu skripsi, tesis, maupun desertasi, keberadaan sampel
memiliki peran yang sangat vital. Hal ini dikarenakan sampel penelitian
dijadikan sebagai sumber pengambilan data baik itu secara kuantitatif maupun
kualitatif. Menurut Sugiyono (2011:62), sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan pengertian dari populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:61).
Teknik sampling sangatlah diperlukan dalam
sebuah penelitian karena hal ini digunakan untuk menentukan siapa saja anggota
dari populasi yang hendak dijadikan sampel. Untuk itu teknik sampling haruslah
secara jelas tergambarkan dalam rencana penelitian sehingga jelas dan tidak
membingungkan ketika terjun dilapangan.
Sugiyono (2011:62) mengelompokkan teknik
sampling menjadi 2 (dua) yaitu Probability Sampling dan Nonprobability
Sampling. Probability Sampling yaitu teknik pengambilan sampel
yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk
dipilih menjadi anggota sampel. (Sugiyono, 2011: 63).
Probability Sampling terdiri dari 4 (empat)
macam yang akan dijelaskan sebagai berikut:
- Simple Random Sampling : Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2011:64).
- Proportionate Stratified Random Sampling : Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional (Sugiyono, 2011:64).
Contoh:
Suatu perusahaan memiliki pegawai dengan pendidikan berstrata lulus (S1 = 50
orang; S2 = 30 orang; SMK = 800 orang; SMA = 400 orang; dan SD = 300 orang).
Maka contoh pengambilan sampel dengan teknik ini adalah dengan asumsi 10%
dari populasi masing-masing strata yang diambil. Jadi dari S1 diambil 5
orang (acak), S2 diambil 3 orang (acak), SMK diambil 80 orang (acak), SMA
diambil 40 orang (acak), dan SD diambil 30 orang (acak). Maka total sampel yang
diambil adalah 5+3+80+40+30 = 158 orang.
- Disproportionate Stratified Random Sampling : Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional (Sugiyono, 2011:64).
Contoh:
Suatu perusahaan memiliki pegawai dengan pendidikan berstrata lulus (S1 = 50
orang; S2 = 30 orang; SMK = 800 orang; SMA = 400 orang; dan SD = 300 orang).
Maka pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan secara bebas (seenaknya)
yaitu S1 diambil 50 orang atau semua populasi S1 dan S2 diambil 30 orang atau
semua populasi S2. Sementara kelompok strata yang lain diabaikan karena jumlah
populasinya terlalu besar. Sehingga total sampel yang digunakan adalah 50 + 30
= 80 orang.
- Cluster Sampling (Area Sampling) : Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas (Sugiyono, 2011:65).
Contoh:
Di kota Banyuwangi terdapat 30 SMP sebagai populasi. Karena itu pengambilan
sampelnya ditentukan sebesar 15 SMP saja dengan pemilihan secara random (acak).
Teknik sampel ini terdiri dari 2 tahap, yaitu (1) tahap penentuan sampel daerah, dan (2) tahap penentuan orang-orang yang ada di daerah itu.
Teknik sampel ini terdiri dari 2 tahap, yaitu (1) tahap penentuan sampel daerah, dan (2) tahap penentuan orang-orang yang ada di daerah itu.
Sedangkan pada Nonprobability Sampling yaitu
teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi
setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
(Sugiyono, 2011: 66). Nonprobability Sampling terdiri dari 6 (enam)
macam yang akan dijabarkan sebagai berikut ini:
- Sampling Sistematis : Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut (Sugiyono, 2011:66).
Misalnya
jumlah populasi 100 orang dan masing-masing diberi nomor urut 1 s/d 100.
Sampelnya dapat ditentukan dengan cara memilih orang dengan nomor urut ganjil
(1,3,5,7,9,…, dst) atau memilih orang dengan nomor urut genap (2,4,6,8,…,dst).
- Sampling Kuota : Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan (Sugiyono, 2011:67).
Misalnya
ingin melakukan penelitian tentang pendapat mahasiswa terhadap layanan kampus.
Jumlah sampel yang ditentukan adalah 500 mahasiswa. Kalau pengumpulan data
belum mencapai kuota 500 mahasiswa, maka penelitian dipandang belum selesai.
- Sampling Insidental : Sampling Insidental adalah tekik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2011:67).
- Sampling Purposive : Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011:68). Teknik ini paling cocok digunakan untuk penelitian kualitatif yang tidak melakukan generalisasi.
Misalnya
penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang
yang ahli makanan atau ahli gizi.
- Sampling Jenuh : Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2011:68).
Hal
ini sering digunakan untuk penelitian dengan jumlah sampel dibawah 30 orang,
atau untuk penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan tingkat kesalahan
yang sedikit atau kecil.
Misalnya
jika jumlah populasi 20 orang, maka 20 orang tersebutlah yang dijadikan sampel.
- Snowball Sampling : Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar (Sugiyono, 2011:68).
Misalnya
suatu penelitian menggunakan sampel sebanyak 10 orang, tetapi karena peneliti
merasa dengan 10 orang sampel ini datanya masih kurang lengkap, maka peneliti
mencari orang lain yang dirasa layak dan lebih tahu tentang penelitiannya dan
mampu melengkapi datanya.
